Setiap bulir beras menyimpan lebih dari sekadar pati. Ia adalah perjalanan panjang yang dimulai jauh sebelum benih jatuh ke lumpur, jauh sebelum padi menguning, bahkan jauh sebelum seorang ibu menanaknya menjadi nasi di atas meja makan.
Di dalamnya tersimpan matahari yang setia menyinari sawah, lumpur yang memeluk telapak kaki petani, tangan-tangan yang dikuasai oleh cangkul, dan doa-doa yang setiap musim dibiarkan ke langit.
Namun, di dalam bulir yang sama, tersimpan pula cerita yang lain.
Baca Juga :Cerita tentang meja makan yang mulai sunyi. Tentang seorang ibu yang menghitung ulang uang di dompetnya sebelum membeli beras. Tentang keluarga yang diam-diam mengurangi satu centong nasi agar kebutuhan lain tetap terpenuhi.
Ironinya, cerita kedua itu lahir dari sawah yang sama.
Ketika harga gabah naik, kami menyambutnya sebagai kabar baik. Akhirnya, petani yang selama puluhan tahun memberi makan negeri memperoleh keadilan yang aman. Tidak ada bangsa yang dapat berdiri tegak jika orang yang menanam pangannya hidup dalam kekurangan.
Namun, pada saat yang sama, harga beras yang melambung menghadirkan kegelisahan bagi jutaan keluarga. Sebab beras bukan sekedar komoditas. Ia adalah dorongan kehidupan yang hadir setiap hari di meja makan.
Lalu lahirlah pertanyaan yang terasa sederhana, namun sesungguhnya sangat rumit.
Percayalah kesejahteraan petani dibayar dengan mahalnya harga beras?
Mungkin pertanyaan itu sendiri telah membawa kita ke jalan yang keliru. Tampaknya-olah kita harus memilih antara petani dan rakyat. Seolah-olah kebahagiaan yang satu hanya mungkin lahir dari kesulitan yang lain.
Padahal masalahnya sering kali tidak berada di sawah.
Di antara petani dan meja makan terbentang perjalanan yang panjang. Ada biaya produksi yang terus membesar, pupuk yang tidak selalu mudah diperoleh, irigasi yang menua, angkutan angkut, penggilingan, gudang, distribusi, hingga perdagangan yang berlapis-lapis. Pada setiap persinggahan, nilai sebutir beras berubah. Ketika tiba di meja makan, ia telah menjelma menjadi harga yang sering kali tidak lagi mencerminkan jerih payah petani.
Sawah bekerja mengikuti musim. Pasar bekerja mengikuti kepentingan. Dan rakyat berdiri di antara keduanya, seringkali hanya menjadi penonton.
Namun, bahkan itu belum keseluruhan cerita. Ada satu mata rantai yang nyaris tak pernah disebutkan ketika kita berbicara tentang pangan. Ia tidak berada di pasar, bukan juga di gudang penyimpanan. Ia berdiri jauh di hulu, di lereng-lereng pegunungan yang dikelilingi pepohonan.
Di balik beras yang melangit, ada sawah yang menggantungkan hidupnya di udara.
Di balik air, ada hutan yang diam-diam bekerja tanpa pernah meminta upah.
Kita terlalu sering melihat hutan sebagai kumpulan batang kayu. Padahal ia adalah ibu yang setiap hari menyusui sawah. Akar-akarnya menahan hujan agar tidak tergesa-gesa meninggalkan bumi. Tanahnya menyimpan mata air agar sungai tetap memperkenalkan jalan pulang. Pepohonannya menjaga keseimbangan musim agar benih masih percaya kepada waktu.
Sawah tidak pernah meminta pupuk dari hutan. Sawah hanya meminta air.
Udara yang mengalir dari pegunungan bukanlah hadiah yang lahir dalam semalam. Ia adalah kesabaran alam yang dikumpulkan selama ratusan tahun. Tetapi kesabaran itu dapat habis hanya dalam hitungan musim.
Lalu kita bertanya mengapa kemarau terasa lebih panjang. Mengapa banjir datang lebih sering. Mengapa sawah kehilangan air ketika padi dipanggil.
Barangkali penjelasannya tidak berada di langit. Ia sedang berbaring di lereng-lereng gunung yang kehilangan hijaunya.
Ironisnya, kita lebih mudah menghitung nilai yang dapat dikeluarkan dari perut bumi daripada menghitung nilai yang setiap hari diberikan oleh hutan tanpa pernah meminta ketidakseimbangan. Kita menghitung tonase, produksi, investasi, dan pertumbuhan. Tetapi kita jarang menghitung udara yang tetap dapat dihirup, udara yang tetap mengalir, tanah yang tetap subur, dan sawah yang tetap hidup.
Barangkali, kita baru akan memahami arti sebuah hutan ketika ia telah tiada.
Ketika udara yang selama ini kita hirup dengan cuma-cuma harus hadir dalam tabung-tabung oksigen.
Ketika udara yang dahulu mengalir sendiri dari pegunungan harus dipompa, diolah, bahkan diperebutkan.
Ketika sawah tidak lagi menunggu musim hujan, melainkan menunggu pergantian air.
Padahal selama berabad-abad hutan bekerja dalam diam. Ia memproduksi oksigen tanpa mengirim tagihan. menyimpan hujan tanpa meminta bayaran. Mengalirkan air ke sungai, ke mata air, ke sawah, lalu ke setiap dapur yang mengepul oleh aroma nasi hangat.
Keabadian mata rantai itu jauh melampaui umur sebuah industri.
Hutan melahirkan udara. Udara menghidupi sawah. Sawah menumbuhkan padi. Padi menghidupi manusia. Lalu seharusnya manusia menjaga hutan. Begitulah kehidupan berputar selama ribuan tahun.
Sebaliknya, ada mata rantai yang usianya jauh lebih pendek. Ia mampu menghasilkan angka-angka yang menakjubkan dalam hitungan puluhan tahun. Tetapi setelah itu, yang sering tertinggal adalah bukit yang kehilangan hijau, sungai yang kehilangan jernih, tanah yang kehilangan kesuburan, dan ruang hidup yang perlahan kehilangan makna.
Namun, setiap kali angka-angka itu dilihat, ada satu pertanyaan yang jarang ikut berdiri di panggung.
Untuk siapa sesungguhnya angka-angka itu bertumbuh?
Sebab pertumbuhan tidak selalu berarti pemerataan. Kekayaan dapat terus bertumpuk, sementara kehidupan di sekitarnya malah menyusut. Dan pada akhirnya, yang paling sulit digantikan bukanlah emas, bukan pula angka-angka dalam laporan ekonomi, melainkan mata air yang mengering, sawah yang menghilang, dan hutan yang tak lagi mampu menyebabkan hujan.
Mungkin selama ini kita salah membaca sebutir beras.
Kita mengira itu hanyalah hasil panen. Padahal ia adalah ujung dari perjalanan yang dimulai dari hutan, dilanjutkan oleh hujan, dijaga oleh tanah, dirawat oleh petani, lalu dipertemukan dengan keluarga di meja makan.
Oleh karena itu, persoalan beras sebenarnya bukan sekadar persoalan harga.
Ia adalah persoalan tentang bagaimana kita memandang kehidupan.
Tentang bagaimana kita memperlakukan alam.
Tentang bagaimana kita menghargai tanaman mereka.
Dan tentang bagaimana kita memilih apa yang hendak diwariskan kepada anak cucu.
Kelak, mereka mungkin tidak akan bertanya berapa harga beras hari ini.
Mereka mungkin akan bertanya mengapa sungai kehilangan airnya, mengapa sawah kehilangan petaninya, dan mengapa hutan kehilangan pepohonannya.
Pada saat itulah kita akan menyadari bahwa sebutir beras tidak pernah sekedar makanan.
Ia adalah lompatan antara hutan, hujan, tanah, petani, dan harapan.
Dan mungkin, kemakmuran suatu bangsa tidak pernah benar-benar diukur dari seberapa banyak yang berhasil diambil dari bumi, melainkan dari seberapa lama bumi tetap mampu memberi kehidupan.
Sebab selama hutan masih tegak, sungai masih mengalir, sawah masih menghijau, petani masih tersenyum, dan nasi masih mengepul di setiap meja makan, di sanalah sebuah bangsa sesungguhnya sedang menjaga bukan hanya pangannya, melainkan juga peradabannya.