BANYUWANGI, PESAN-Trend.CO.ID – Sistem pengamanan maritim di Banyuwangi memasuki fase baru. Satuan Polairud Polresta Banyuwangi kini resmi mengoperasikan dermaga taktis Gerbang Samudra Danantya Virendra sebagai pusat kegiatan patroli laut, sekaligus menurunkan kapal cepat Rigid Buoyancy Boat (RBB) untuk memperkuat respons di perairan Selat Bali.
Peresmian berlangsung pada Senin (8/12/2025) di markas Satpolairud, dipimpin Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Nanang Avianto, Kegiatan berlangsung selama lebih dari satu jam, dimulai pukul 12.45 WIB dengan serangkaian agenda seremonial dan pengecekan fasilitas.
Momentum tersebut dihadiri jajaran pejabat lintas sektor, mulai dari Penasihat Ahli Kapolri Prof. Hermawan Sulistyo, perwakilan Pemkab Banyuwangi Dr. Ir. Guntur Priambodo, Kapolresta Banyuwangi Kombes Pol Rama Samtama Putra, serta unsur TNI, operator pelabuhan, instansi maritim, dan komunitas nelayan. Hadir perwakilan dari ASDP, Bea Cukai, KSOP, BPTD, Pelindo, Pertamina, Kejaksaan Negeri Banyuwangi, serta stakeholder pelayaran lain di Selat Bali.
Baca Juga :Dermaga Gerbang Samudra Danantya Virendra dibangun sebagai pangkalan cepat untuk armada patroli. Di dermaga ini, proses pengisian logistik kapal, mobilisasi personel, hingga persiapan patroli dapat dilakukan lebih ringkas tanpa bergantung pada fasilitas pelabuhan umum.
.jpg)
Fasilitas tersebut berada di titik strategis karena menghadap langsung jalur pelayaran padat yang menghubungkan Jawa – Bali, termasuk aktivitas logistik, pariwisata, hingga perikanan tradisional.
Kapolresta Banyuwangi Kombes Pol Rama Samtama Putra menegaskan bahwa keberadaan infrastruktur baru ini memberikan lompatan dalam kesiapsiagaan Polairud.
“Fasilitas ini bukan sekadar tempat sandar kapal, tapi sistem pendukung operasi. Dengan dermaga dan RBB, respons terhadap keadaan darurat di laut bisa dilakukan dalam hitungan menit,” jelasnya.
Menurut Rama, peningkatan mobilitas armada akan berdampak langsung pada efektivitas penegakan hukum, penyelamatan kecelakaan laut, hingga pengawasan kegiatan pelayaran di Selat Bali yang setiap hari dilintasi kapal penumpang dan barang.
Pada kesempatan sama, Polairud juga menerima satu unit kapal cepat RBB berperforma tinggi. Kapal ini mampu melaju hingga 50 knot dan berkapasitas delapan personel, sehingga cocok untuk misi pengejaran maupun patroli jarak pendek-menengah.
Keunggulan kapal terletak pada desain lambung yang stabil di gelombang tinggi. Dengan kemampuan itu, armada dapat bergerak cepat menangani laporan kecelakaan laut, pelanggaran jalur pelayaran, hingga penyelundupan barang ilegal.
Dalam arahannya, Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Nanang Avianto menyebut pembangunan dermaga dan penambahan kapal menjadi representasi komitmen Polri dalam menjaga keselamatan laut.
“Perairan Banyuwangi adalah salah satu titik maritim penting Indonesia. Infrastruktur ini memperkuat kesiapan personel dan memperkecil ruang kejahatan di laut,” tegasnya.
Nanang juga menyinggung pentingnya pemeliharaan fasilitas baru agar dapat menopang penjagaan maritim dalam jangka panjang.
“Membangun itu penting, tapi merawat jauh lebih penting. Fasilitas ini harus diwariskan dalam kondisi terbaik,” ujarnya.
Penasihat Ahli Kapolri Prof. Hermawan Sulistyo menilai kolaborasi lintas lembaga akan menjadi kunci keberhasilan pengamanan laut. Menurutnya, dermaga dan kapal cepat hanyalah bagian perangkat, sementara efektivitas penegakan hukum ditentukan oleh sinergi antarinstansi dan dukungan masyarakat pesisir.
Ia berharap peresmian ini menjadi awal penguatan jejaring informasi antara Polairud, pemerintah daerah, operator pelayaran, serta nelayan tradisional.
Membangun Ekosistem Keamanan Laut
Dengan beroperasinya dermaga dan kapal RBB, Polairud Polresta Banyuwangi kini memiliki titik kendali baru yang memungkinkan patroli menjangkau wilayah lebih luas, termasuk kawasan rawan pelayaran di Selat Bali dan perairan utara Banyuwangi.
Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari strategi Polri dalam mendukung keselamatan pelayaran nasional, serta menjaga stabilitas jalur laut yang menjadi urat nadi pariwisata dan distribusi logistik wilayah timur Jawa.