Malioboronya Banyuwangi Tumbuh Dari semangat Gotong Royong Pemuda

$rows[judul]
Keterangan Gambar : Ikon BHSC

BANYUWANGI – Siapa sangka sebuah taman kota yang dahulu hanya menjadi tempat singgah masyarakat kini menjelma menjadi pusat aktivitas ekonomi, budaya, dan kreativitas yang ramai dikunjungi setiap akhir pekan. Di bawah rindangnya pepohonan dan gemerlap lampu malam, Taman Blambangan kini tumbuh menjadi ruang publik yang hidup, bahkan kerap disebut masyarakat sebagai "Malioboro-nya Banyuwangi".

Perubahan tersebut tidak terjadi begitu saja. Di balik ramainya kawasan Taman Blambangan, terdapat semangat gotong royong para pemuda Kelurahan Kepatihan yang berkolaborasi dengan pemerintah kelurahan dalam menata dan menghidupkan kawasan tersebut.

Kolaborasi itu melahirkan Blambangan Heritage Street Community (BHSC), sebuah paguyuban yang kini menjadi motor penggerak berbagai aktivitas masyarakat di kawasan Taman Blambangan.

Baca Juga :

BHSC dinakhodai oleh Iwan Ho dan Yudi Oleng, dengan Lurah Kepatihan sebagai pembina. Bersama puluhan pelaku UMKM, komunitas seni, musisi jalanan, serta warga sekitar, mereka bahu-membahu menciptakan suasana yang aman, nyaman, dan berbudaya bagi setiap pengunjung.

Dari Ruang Terbuka Menjadi Ruang Berkarya

Taman Blambangan selama ini dikenal sebagai ikon Kabupaten Banyuwangi sekaligus ruang terbuka hijau yang berada di pusat kota. Lokasinya yang strategis menjadikannya mudah diakses oleh masyarakat dari berbagai penjuru daerah.

Melalui program Car Free Day (CFD) dan Car Free Night (CFN), kawasan ini berkembang menjadi ruang publik multifungsi yang mampu mengakomodasi berbagai kegiatan masyarakat.

Bukan hanya menjadi tempat berolahraga dan bersantai, Taman Blambangan kini menjadi panggung bagi pelaku UMKM, komunitas kreatif, seniman, hingga generasi muda yang ingin menampilkan karya dan kreativitas mereka.

“Yang kami bangun bukan sekadar keramaian, tetapi ekosistem yang memberi manfaat bagi masyarakat,” ungkap Iwan Ho Ketua BHSC.

UMKM Tumbuh, Ekonomi Bergerak

Keberadaan CFD dan CFN terbukti memberikan dampak positif terhadap perputaran ekonomi masyarakat. Puluhan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah memanfaatkan momentum tersebut untuk menjajakan berbagai produk unggulan Banyuwangi.

Mulai dari kuliner tradisional, minuman kekinian, kerajinan tangan, hingga produk kreatif lainnya dapat ditemukan di sepanjang kawasan Taman Blambangan.

Tertatanya kawasan pedagang dan parkir kendaraan membuat pengunjung merasa lebih nyaman. Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap meningkatnya jumlah pengunjung serta peluang usaha bagi masyarakat.

Bagi para pelaku UMKM, Taman Blambangan bukan sekedar lokasi berjualan, melainkan ruang untuk bertumbuh dan memperluas jaringan usaha.

Budaya Banyuwangi Tetap Menjadi Tuan Rumah

Meski dipenuhi berbagai aktivitas modern, identitas budaya Banyuwangi tetap menjadi ruh utama kawasan ini.

Alunan musik etnik Banyuwangi, pertunjukan seni tradisional, hingga berbagai kegiatan budaya rutin digelar untuk menghibur masyarakat sekaligus menjaga warisan leluhur tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Suasana inilah yang membuat Taman Blambangan memiliki karakter berbeda dibandingkan ruang publik lainnya.

Pengunjung tidak hanya datang untuk berbelanja atau bersantai, tetapi juga menikmati kekayaan budaya yang menjadi kebanggaan masyarakat Banyuwangi.

Menata Kota dengan Semangat Gotong Royong

Keberhasilan Taman Blambangan menunjukkan bahwa pembangunan tidak selalu harus dimulai dari proyek besar dengan anggaran yang fantastis.

Semangat gotong royong, kolaborasi, dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar terbukti mampu mengubah wajah ruang publik menjadi lebih baik.

Kini masyarakat dapat menikmati kawasan yang tertata rapi, aman, nyaman, serta penuh aktivitas positif. Tidak lagi identik dengan kesan semrawut, Taman Blambangan justru menjadi simbol kebangkitan ekonomi rakyat dan kreativitas anak muda Banyuwangi.

Dengan berbagai inovasi yang terus dilakukan, BHSC bersama pemerintah Kelurahan Kepatihan berharap Taman Blambangan dapat terus berkembang menjadi destinasi wisata rakyat yang berkelas, menerima Banyuwangi, dan menjadi contoh pengelolaan ruang publik berbasis partisipasi masyarakat.

Di tengah gemerlap lampu malam, iringan musik Banyuwangi, serta ramainya aktivitas UMKM, Taman Blambangan kini membuktikan bahwa sebuah ruang publik dapat tumbuh menjadi ikon daerah ketika dibangun dengan semangat gotong royong dan kecintaan terhadap kota sendiri.

Tak berlebihan jika banyak orang kini menjulukinya sebagai "Malioboro-nya Banyuwangi".