Pagi ini sepulang mengantarkan anak sekolah, saya melihat sebuah gerobak di pinggir jalan bersandar di bawah pohon saat gerimis hujan membasahi bumi banyuwangi. Di gerobak itu terdapat tulisan menjual segalam macam kukusan polo pendem menyehatkan, saya pun tertarik membeli beberapa kukusan jagung, sabrang, gembili, kentang dan beberapa jenis lainnya.
Leluhur Jawa menyebut umbi-umbian dengan istilah polo pendem, buah yang memilih hidup di dalam tanah. Singkong, ubi, talas, gembili, garut, hingga suweg tidak pernah tumbuh di pucuk mengomel. Mereka tidak menampilkan warna, tidak mengundang decak kagum, apalagi berlomba menjadi yang paling mencolok. Mereka memilih gelap sebagai ruang bertumbuh.
Barangkali karena mereka memahami satu hal yang mulai dilupakan manusia modern: sesuatu yang paling berharga sering kali tidak hidup di permukaan.
Baca Juga :Hari ini kita hidup di zaman yang memuja permukaan. Gaya hidup tidak lagi dibangun dari nilai, melainkan dari citra. Keberhasilan diukur dari apa yang terlihat, bukan dari apa yang dikerjakan. Orang lebih sibuk membangun kesan daripada membangun karakter. Media sosial menjadi panggung raksasa tempat semua orang berlomba tampak berhasil, meski kenyataannya belum tentu demikian.
Kita memasuki peradaban yang lebih menghargai pencitraan daripada pertumbuhan.
Dalam dunia politik, baliho sering kali tumbuh lebih cepat daripada gagasan. Senyum dipol oleh fotografer, tetapi keberpihakan kepada rakyat kerap memudar setelah kekuasaan diraih. Janji bertebaran seperti bunga musim semi, namun mengering ketika musim pemilihan usai. Politik berubah menjadi industri kemasan, bukan lagi ruang pengabdian.
Dalam dunia pendidikan, angka menjadi lebih penting daripada kejujuran. Ijazah diburu, tetapi pilihannya disukai. Gelar bertambah panjang, sementara integritas justru semakin pendek. Sekolah melahirkan banyak orang pintar, namun belum tentu melahirkan manusia yang arif.
Dalam ekonomi, konsumsi berubah menjadi identitas. Orang membeli bukan lagi karena membutuhkan, melainkan agar dianggap mampu. Rumah menjadi studio konten. Liburan menjadi bahan unggahan. Makan bukan lagi untuk mengenyangkan tubuh, melainkan untuk mengenyangkan algoritma.
Semuanya ingin terlihat. Sedikit yang ingin bertumbuh.
Di tengah keramaian-pikuk itu, polo pendem seolah berbisik dari dalam tanah.
"Lihatlah aku. Aku tidak pernah viral, tapi aku tetap memberi makan."
Bukankah bangsa ini sesungguhnya dibangun oleh banyak “polo pendem”? Para petani yang bekerja sejak subuh tetapi tidak pernah menjadi tokoh utama berita. Guru di pelosok yang mengajar tanpa sorotan kamera. Nelayan yang melawan ombak agar dapur-dapur tetap mengepul. Buruh, pedagang kecil, tenaga kesehatan, relawan, dan jutaan orang biasa yang menopang negeri tanpa tepuk tangan.
Mereka adalah akar yang tak terlihat.
Ironisnya, masyarakat justru lebih mudah terpukau oleh daun yang hijau daripada akar yang menghidupinya.
Padahal sejarah selalu memberi pelajaran yang sama. Pohon yang hanya mempercantik daun tetapi melupakan akar akan tumbang ketika badai datang. Demikian pula sebuah bangsa. Ketika moral, budaya, gotong royong, kejujuran, dan rasa malu terkubur terlalu dalam, yang tumbuh di permukaan hanyalah kemewahan yang rapuh.
Lalu kita bertanya mengapa korupsi semakin biasa, mengapa bayangan terasa lumrah, mengapa orang baik sering tersingkir oleh mereka yang pandai memainkan panggung.
Jawabannya mungkin sederhana.
Karena kita lebih sering memilih yang mengilap daripada yang mengakar.
Polo Pendem juga mengingatkan bahwa pangan lokal pernah menjadi penyelamat negeri. Ketika beras gagal panen, singkong, ubi, talas, dan ganyong tetap setia menghidupi masyarakat. Namun modernitas membuat kita malu mengakui warisannya sendiri. Kita menganggap pangan lokal sebagai simbol keterbelakangan, sementara makanan impor menjadi lambang kemajuan.
Padahal yang disebut modern bukanlah meninggalkan akar, melainkan mampu merawat akar sambil menumbuhkan cabang-cabang baru.
Mungkin yang terkubur hari ini bukan sekadar umbi-umbian.
Yang terkubur adalah rasa malu.
Yang terkubur adalah kejujuran.
Yang tersembunyi adalah kelemahannya.
Yang terkubur adalah pengabdian.
Yang terkubur adalah gotong royong.
Dan ketika semua nilai itu terkubur terlalu dalam, lahirlah masyarakat yang sibuk mengejar sorotan, tetapi kehilangan arah. Ramai di layar, sepi di hati. Mewah di luar, rapuh di dalam.
Sudah waktunya kita belajar kembali kepada polo pendem. Ia mengajarkan bahwa menjadi berguna jauh lebih mulia daripada sekedar terkenal. Bahwa akar lebih penting daripada bunga. Bahwa isinya lebih berharga daripada kemasan. Dan bahwa peradaban tidak akan diselamatkan oleh mereka yang paling pandai tampil, melainkan oleh mereka yang paling tulus bertumbuh.
Sebab pada akhirnya, ketika badai sejarah benar-benar datang, yang akan menyelamatkan sebuah bangsa bukanlah mereka yang berdiri paling tinggi di atas panggung, melainkan mereka yang sejak awal rela menjadi akar di dalam tanah.